UTS Daring (dalam jaringan) saat Pandemi
Virus Corona (Covid-19)
Adanya pandemi Virus Corona ini, menyebabkan banyak
sekali dampak bagi masyarakat maupun bagi dunia. Selain berdampak pada
perekonomian negara, Virus Corona juga berdampak pada dunia pendidikan. Pemerintah di banyak
negara, baik Pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah telah mengeluarkan
kebijakan yang harus ditaati oleh seluruh warga negara untuk meliburkan seluruh
lembaga pendidikan. Hal tersebut dilakukan sebagai upaya untuk pencegahan
meluasnya penularan Virus Corona.
Saat ini di Indonesia, beberapa PTN (Perguruan Tinggi
Negeri) maupun PTS (Perguruan Tinggi Swasta) mulai menerapkan kebijakan
perkuliahan yang dilakukan dari jarak jauh yaitu perkuliahan secara online atau
daring (dalam jaringan). Perkuliahan secara online atau daring (dalam jaringan)
dapat dilaksanakan dengan memanfaatkan aplikasi pembelajaran online yang telah
ada seperti schoology, edmodo, google classroom, zoom, dan sebagainya.
Sekarang UMS sedang melaksanakan UTS (Ujian Tengah
Semester) secara online atau daring (dalam jaringan). Mahasiswa diwajibkan
memiliki akun schoology sendiri. Akun tersebut digunakan untuk mahasiswa agar
dapat mengikuti UTS secara online. Mahasiswa dapat mengakses akun schoology
tersebut dengan membuka laman https://ww.schoology.com yang telah tersedia.
Adanya Virus Corona yang menyebabkan dampak pada dunia
pendidikan, disini saya mewawancara salah satu mahasiswa UMS yang sedang
menempuh pendidikan S-1 di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP). Putri,
Jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) yang saya wawancara. Ada beberapa
pertanyaan yang saya tanyakan mengenai adanya UTS yang dilaksanakan secara
online ini dan Putri banyak sekali menyampaikan pendapat-pendapatnya tentang
adanya pelaksanaan UTS daring ini.
Meskipun satu kampus dan satu fakultas belum tentu
juga kebijakan-kebijakan UTS daring ini sama. Meskipun ada yang sama, tetapi
tetap ada yang berbeda. Misalnya di program studi saya waktu pengumpulan UTS
daring ini bisa dilakukan paling lambat 3 hari setelah mengerjakan UTS untuk
menghindari adanya daerah-daerah yang susah jaringan internet. Sehingga
teman-teman saya yang tinggalnya di daerah yang susah untuk mencari jaringan
internet, bisa lebih mengoptimalkan kebijakan dari program studi saya ini. Hal
itu disampaikan oleh Bu Laili selaku dosen dan perwakilan dari program studi
untuk menyampaikan berbagai macam informasi pada saat perkuliahan daring hingga
UTS daring ini.
Menurut Putri, UTS di program studinya sama seperti di
program studi yang lain. “Kalau di prodi (program studi) saya sendiri itu
mungkin sama dengan prodi-prodi yang lain, yaitu menggunakan schoology,”
ungkapnya. Lalu, Putri menjelaskan lebih jelas lagi bagaimana sistem
pelaksanaan UTS daring tersebut. “Jadi sebelum UTS, biasanya paling lambat dua
jam sebelum pelaksanaan UTS, kita diberi kode untuk mengakses soal yang akan
diberikan pada jam waktu UTS tersebut,” jelasnya kemudian. Tetapi memang ada
kebijakan-kebijakan dari program studinya. Karena memang kebijakan-kebijakan
dari program studi satu ke program studi yang lain itu berbeda-beda. “Lalu
untuk biasanya dari prodi saya sendiri itu ada jangka waktu untuk pengumpulannya.
Jika pelaksanaan UTS misalkan jam setengah satu, nanti selesai mengerjakan jam
dua. Tapi ada tenggang waktu untuk pengumpulan, yaitu biasanya sampai jam lima
sore,” jelasnya mengenai kebijakan program studi nya. Jadi, memang kebijakan
itu masing-masing menurut program studinya. Mungkin tidak bisa di sama ratakan.
UTS daring ini memang jarang sekali dilakukan. Baik di
sekolah maupun di perguruan tinggi. Sehingga dengan adanya Virus Corona ini,
mau tidak mau kita harus melaksanakan UTS secara daring yang cara pelaksanaanya
memang berbeda-beda setiap perguruan tinggi. UTS daring ini memang satu-satunya
cara yang diharapkan agar bisa memutus rantai penyebaran Virus Corona. Karena
memang kuliah juga sudah online, UTS pun juga tetap dilaksanakan secara online
selama pandemi Virus Corona ini masih terus bergulir.
Dengan adanya UTS daring ini, mungkin ada kendala yang
dialami oleh mahasiswa, salah satunya Putri. Putri menceritakan apa saja
kendala yang dialaminya dan juga teman-temannya. “Untuk kendala sendiri, kalau
dari saya pribadi mungkin UTS daring ini sudah berjalan dengan lancar,”
ungkapnya. Kemudian Putri menjelaskan lebih detail mengenai kendala yang
dialami teman-temannya itu seperti apa. “Mungkin jika dari teman-teman saya,
ada yang berkeluh kesah mengenai jaringan internet. Mungkin dari tempat-tempat
teman-teman saya yang di share di grup itu tempat tinggal mereka susah dari
jaringan internet. Sehingga mereka juga susah mengangkses soal UTS tersebut,”
penjelasan putri kemudian. Namun sejauh ini, pelaksanaan UTS bagi Putri tidak
ada kendala karena memang di daerah rumahnya untuk jaringan internet sudah
sangat baik. Jadi, untuk mengakses akun schoology, melaksanakan UTS daring, dan
nantinya jika mengirimkan jawaban melalui schoology memang sudah tidak ada
kendala terkait jaringan. Menurutnya, dengan adanya UTS daring ini menjadikan
mahasiswa bisa melaksanakan UTS meskipun secara daring.
Adanya UTS daring ini mungkin memang menyulitkan bagi
banyak pihak. Mulai dari dosen-dosen yang sudah lanjut usia yang memang kurang
memahami teknologi, sehingga mereka merasa kesulitan. Dosen-dosen yang masih
muda yang harus lebih abnyak meluangkan waktu dan pikirannya agar UTS daring
ini dapat berjalan dengan lancar. Dan juga mahasiswa-mahasiswa yang rumahnya
berada di daerah-daerah yang sangat sulit untuk mengakses jaringan internet,
sehingga terkendala.
Nah, dengan adanya UTS daring ini ada beberapa
kesulitan yang Putri dan teman-teman alami. “Kalau dari UTS daring ini saya
sendiri ada kesulitan,” ungkapnya. Selanjutnya Putri mengungkapkan kesulitan-kesulitan
apa saja yang dialaminya dan teman-temannya. “Kita baru melaksanakan
pembelajaran tatap muka itu baru sekali sampai dua kali. Sedangkan setelah itu
kita pembelajaran daring. Pembelajaran atau perkuliahan daring itu tidak
maksimal karena kita sendiri dan dosen kesulitan dalam berkomunikasi,”
ungkapnya. Lalu Putri menjelaskan lebih banyak lagi tentang kesulitan-kesulitan
yang dialaminya. “Seperti yang saya katakan tadi, sinyal di tempat teman-teman
saya banyak yang tidak bagus. Sehingga perkuliahan itu tidak maksimal. Kita
kesulitan memahami materi dari dosen. Sehingga kita mengerjakan UTS itu
kebanyakan dari materi yang kita benar-benar paham. Hanya materi yang sebelum
kita mengadakan daring,” begitu
penjelasan Putri. Menurut Putri perkuliahan yang dilakukan secara daring itu
tidak maksimal. Karena, Putri dan teman-temannya hanya ada diskusi online saja.
Yang mana di dalam diskusi itu hanya mengutamkan absen saja dan jika
teman-temannya mengajukan pertanyaan, mereka mengajukan pertanyaan tanpa
memperdulikan jawabannya. Sehingga menyebabkan perkuliahan yang dilakukan
secara daring ini menjadi tidak maksimal.
Bukan hanya kendala saja, tetapi mungkin memang ada
keefektifan dengan adanya UTS daring ini. Menurut Putri, UTS daring ini sudah
bagus tetapi masih kurang efektif. “Kalau menurut saya, mungkin UTS daring ini
dilaksanakan karena memang benar-benar dalam keadaan yang darurat. Mungkinkan
kalau dari pihak-pihak dosen dan yang lainnya, ini adalah keadaan darurat yang
harus terpaksa dilaksanakan seperti ini. Sehingga, mungkin dari mereka juga
tidak maksimal dalam melaksanakan seperti ini,” jelasnya kemudian. Putri
memiliki pandangan lain mengenai keefktifan dengan diadakannya UTS daring ini. “Tapi
kalau menurut saya ini seperti formalitas. Menurut saya ini sudah bagus. Kita
juga sudah dapat melaksanakan UTS daring,” ungkapnya kemudian. Jadi, memang ada
kendala dan ada juga tingkat keefektifan dengan adanya UTS daring ini. Bagi
dosen mungkin memang ini semua adalah jalan terbaik untuk saat ini yang bisa
dilakukan. Begitu juga dengan Putri, UTS daring ini mungkin merupakan
formalitas yang memang harus dilaksanakan agar mahasiswa bisa melaksanakan UTS
meskipun tidak dengan tatap muka. Meski kurang maksimal, semoga UTS daring ini
bisa berjalan dengan lancar.
Adanya kendala dengan diadakannya UTS daring ini,
Putri juga mengharapkan ada juga perbaikan yang memang masih bisa untuk
diperbaiki dalam pelaksanaan UTS daring ini. “Mungkin yang perlu diperbaiki
yaitu seperti jangka waktu upload yang lebih panjang,” ungkapnya. “Jadi,
untuk pengumpulannya bisalah sehari waktu pengumpulan,” terangnya kemudian.
Namun, menurut Putri bukan hanya itu saja yang perlu diperbaiki. “Harus juga
mempertimbangkan jaringan-jaringan di berbagai lokasi yang mahasiswa tempati,”
terangnya lebih lanjut. Putri juga mengharapkan agar bisa UTS daring ini bisa
dilakukan dengan mata kuliah yang diujikan satu saja selama sehari. “Kalau di
prodi saya sendiri satu hari bisa dua UTS. Sedangkan dalam satu UTS saja
pengerjaannya sangat lama. Belum lagi nanti ada soal yang menyusul dan itu
sangat membebani kita,” terangnya. Menurut Putri ada kebijakan lain yang
seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan UTS daring ini. “Lebih baik menurut
saya, UTS daring ini dilaksanakan sehari satu kali dengan jangka waktu satu
hari tersebut penguploadan,” terangnya lebih lanjut.
Mengingat banyaknya dampak yang di alami di banyak
negara dengan adanya pandemi Virus Corona ini, semoga semua pihak bisa menerima
kebijakan-kebijakan pemerintah dengan baik. Bisa melaksanakan dan
menerapakannya di dalam kehidupan sehari-hari. Tetap berdiam diri di rumah,
tetap berjaga jarak, tetap bekerja dari rumah, tetap sekolah ataupun kuliah
dari rumah, dan jika akan keluar rumah harus benar-benar ada kepentingan yang
mendesak. Sepeti membeli kebutuhan sehari hari. Memang banyak
sekali yang berubah, tidak hanya bagi dunia pendidikan saja. Tetapi semoga semua
masyarakat bisa memaklumi dan menerima keadaan dengan sebaik-baiknya. Semoga pandemi Virus Corona ini segera berlalu dan masyarakat bisa kembali beraktivitas seperti sedia kala. Aamiin.
Dokumentasi

Komentar
Posting Komentar